Personal

Icip Martabak Kubang Khas Minang

JAKARTA. Komunitas Anak-anak Minang (AAM) Jabodetabek menggelar festival kebudayaan AAM dengan menghadirkan berbagai kuliner khas Minang di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Sabtu-Minggu (10-11/12).

Acara ini pertama kali diselenggarakan oleh komunitas AAM dengan maksud memberikan wadah bagi para pelaku usaha khususnya kuliner untuk unjuk kebolehan dan berkreasi sembari memperkenalkan kuliner khas Minang.

Peserta yang kebanyakan merupakan pelaku usaha tampak antusias terlibat dalam acara tersebut, salah satunya Elvi Agus. Dia menjalani usaha kuliner Minang dengan brand Martabak Kubang Hayuda. Meski mengusung brand martabak, gerai Elvi tidak hanya menjual menu martabak kubang tetapi juga teh telur, es tebak, sate padang,dan lainnya.

Di antara menu-menu yang dibawanya dalam festival, banyak pengunjung menyukai martabak kubang. Bahkan, Elvi tidak hanya menyewa satu tenda dalam acara tersebut, melainkan dua tenda. Nah, salah satu tenda yang disewanya dikhususkan untuk melayani pengunjung yang memesan menu martabak kubang.

Animo pengunjung pun begitu terasa. Pasalnya, tidak lama setelah stand-stand kuliner tersebut dibuka sekitar pukul 09.00, tidak sedikit stand yang kulinernya ludes terjual, termasuk gerai Martabak Kubang Hayuda. “Kita buka jam 09.00, sekitar jam 11.00, ada sekitar 100 porsi sudah habis terjual,” ucapnya kepada KONTAN, Sabtu (10/12).

Bahkan, menjelang sore, stand Martabak Kubang Hayuda yang khusus menjual martabak kubang masih ramai oleh antrean. Tampak antrean memenuhi stand tersebut meski saat itu panas matahari begitu terasa.

Asal tahu saja, martabak kubang adalah kuliner khas Minang. Sekilas, tampilannya memang sama dengan martabak telur yang biasa disantap oleh masyarakat pada umumnya. Hanya saja, komposisi martabak kubang tidak hanya sayuran, tetapi juga rendang dan bumbu-bumbu lain.

Selain itu, martabak kubang juga digoreng menggunakan mentega, bukan minyak goreng. Tujuannya, supaya kulit martabak tidak mengembang sehingga bisa menempel atau menjadi satu dengan isi di dalam martabak. Bumbu yang digunakan pun berbeda dengan bumbu martabak telur, yakni menggunakan bumbu khas Minang.

Sebenarnya, orang-orang Minang menyebut martabak Kubang dengan sebutan martabak Mesir. “Karena saya berasal dari Kubang, maka saya buat namanya Martabak Kubang,” ujar Elvi sambil tertawa.

Elvi mengatakan, martabak Kubang sudah mulai dirintis sejak tahun 1988. Cita rasa yang khas dan permintaan yang banyak membuat usaha ini berkembang hingga dia memutuskan untuk membuka cabang di Jakarta. Saat ini, Martabak Kubang Hayuda sudah memiliki enam cabang yang tersebar di Jakarta, Depok, Tangerang, Bogor, dan Bandung.

Festival AAM diselenggarakan dua hari berturut-turut, yakni Sabtu-Minggu (10-11/12) di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat.

Founder AAM, Bobi Arianto mengatakan, ada sekitar 120 stand kuliner yang terlibat dalam festival ini yang kebanyakan berasal dari Jabodetabek, sementara 11 lainnya berasal dari Sumatera Barat. Menurutnya, hampir sebagian besar pengunjung yang datang merupakan masyarakat suku Minang.

Tentu, acara ini juga dijadikan sebagai ajang silaturahmi kepada sesama perantauan Minang yang ada di Jabodetabek. Beberapa pelaku usaha mengaku senang dengan adanya festival ini lantaran mereka bisa membranding usaha kuliner khas Minang yang mereka rintis. Bahkan, mereka mengaku pendapatan mereka bertambah melalui festival AAM. 


Source link

error: Content is protected !!