Sports

Impian 14 Puncak Martin Rimbawan

Martin Rimbawan

Ia sudah menjejakkan kaki di puncak-puncak tertinggi di Indonesia. Bahkan, dalam misi ekspedisi Seven Summits, ia berhasil melibas tujuh puncak gunung tertinggi di tujuh benua, termasuk gunung yang disebut puncak ibu dunia: Everest.

 

Jatuh cinta pada alam

Martin Rimbawan

Martin Rimbawan adalah sosok yang dekat dengan alam sejak usia dini.

Ayahnya, yang juga seorang pecinta alam dan pendaki gunung, memperkenalkan Martin pada dunia penuh tantangan ini. “Ayah saya memang suka sekali gunung, dari sanalah interestsaya muncul. Saya pun ikut kegiatan pramuka, dan saat kuliah tahun 2005 ikut membekali diri di KSR PMI Bandung dan setelahnya bergabung dengan Wanadri– organisasi pencinta alam tertua di Indonesia – pada 2008,” ceritanya singkat.

 

Pendakian tersulit

Bagi Martin Rimbawan, ekspedisi Seven Summits – yang diselesaikan dari 2010 sampai 2013– merupakan pendakian yang tak terlupakan. Dalam pendakian panjang ini Martin merasa hampir menemui ajal. “Denali dan Everest adalah yang paling sulit bagi saya. Saat pendakiaan di Denali saya merasakan kedinginan yang amat sangat karena mendaki di tengah suhu minus 50 derajat Celcius,” ucapnya.

Pendakian Everest lebih sulit lagi. Kekuatan fisik diuji sampai batas maksimal – hempasan angin ditambah suhu minus 32 derajat Celcius, belum lagi panjangnya waktu perjalanan dan terbatasnya oksigen. “Inilah yang membuat kesulitan gunung jadi kompleks,” ucapnya mengenang pendakian saat itu.

Dan masalah snowblind, gangguan berupa pantulan cahaya pada salju yang sehingga membutakan pandangan, merupakan awal ia merasakan ajal begitu dekat. “Saya terkena snowblind di 8000 mdpl – tepatnya di Hillary Step.Pandangan mata saat itu hanya seperempat di mata kanan,” ucap mantan atlet lari dari Jawa Barat ini. Padahal, ujung gunung itu kurang lebih 200 meter lagi. Tanggung, pikir Martin saat itu. Ia pun melanjutkan perjalanan bersama sisa semangatnya dan bersiap dengan risiko yang harus dihadapi. “Pikiran saya waktu itu sederhana: melihat bendera merah putih berkibar,” kata Martin.

Dan, akhirnya, Martin berhasil sampai di puncak Everest – cita-cita para pendaki gunung di seluruh dunia. Kebanggaan tak bisa ia tutupi saat itu, tapi itu hanya berselang beberapa menit saja. Risiko yang sudah ia khawatirkan datang juga. Halusinasi akibat keletihan. Pandangan matanya sudah tertutup akibat snowblind. Dan saat itu, tak terpikir untuk bisa turun saat itu, ia merasakan kekuatan tubuhnya sudah mencapai titik akhir. Inikah akhir hidupku, tanya Martin saat itu.

 

Kekuatan yang menolak menyerah

Namun tekad untuk hidup tak lantas padam. Prinsip pendakian yang ia pegang muncul dan menampar dirinya – bahwa kita berjuang untuk hidup tidak hanya dalam perjalanan mencapai puncak, tetapi juga dalam perjalanan turun. “Saya sadar oksigen dalam tabung sudah semakin menipis. Berbekal seutas tali yang terpasang satu cincin kait, saya tertatih merayapi punggungan dan celah Everest, sampai akhirnya sampai campterakhir,” terangnya.

Setelah kejadian itu, ia merasakan betul arti kekuatan. Kekuatan yang sejati bukanlah dari kemenangan. Tetapi kekuatan sejati itu ketika kita menghadapi kesulitan dalam hal apapun – termasuk pendakian, dan kita tidak menyerah. Itulah makna sebenarnya dari kekuatan. “Puncak itu hanya bonus dan pulang dengan selamat merupakan kewajiban,” ucapnya merefleksikan perjalanan gunung itu.

 

Pendakian adalah ziarah

Menurut Martin, tidak ada resep khusus untuk keberhasilan pendakian gunung demi gunung seperti yang telah ia jalani. Ia hanya menikmati setiap perjalanan tanpa mengeluh. “Mendaki gunung bukan penaklukkan. Itu kata yang salah,” kata Martin. “Gunung adalah tempat untuk menziarahi keagungan dan keindahan,” kata pria yang suka olahraga traill runningini.

Dengan prinsip seperti itu, Martin masih memiliki impian untuk mencapai puncak yang lebih tinggi lagi – “Pendakian 14 puncak di 8000 meter, serta pencapaian puncak bumi utara selatan – Grand Slam– dan pencapaian renang 60 selat Nusantara, Sabang- Merauke,” kata Martin.

 


Source link

error: Content is protected !!