Sports

Ini Berbagai Ancaman yang Mengintai Pria Gemuk

Sebuah survei yang dilakukan di Inggris beberapa waktu lalu terhadap 1000 pria menemukan bahwa sepertiga dari pria berusia 35-60 tahun tidak bisa melihat alat vital mereka ketika berdiri tegak. Itu karena perut mereka yang membusung menghalangi pandangan mereka.

Bila Anda mengalami hal yang sama, itu masalah besar! “Jika perut yang terlalu besar membuat pria tak bisa melihat penis mereka sendiri, mereka harus waspada. Ini merupakan tanda meningkatnya risiko penyakit berbahaya, bahkan kematian,” jelas Prof. Dr. dr. Sidartawan Soegondo, SpPD, KEMD, FACE, ahli endokrin metabolik dari Rumah Sakit Husada dalam seminar “Good Doctor For The Perfect Metabolism” yang diselenggarakan oleh Klinik Prodia beberapa waktu lalu.

Dunia melambat, pinggang melebar

Coba ukur lingkar pinggang Anda. Batasan lingkar pinggang yang ditetapkan oleh WHO untuk orang-orang dari kawasan Asia Pasifik adalah di bawah 90 cm untuk laki-laki. Bila lingkar pinggang Anda di atas angka tersebut Anda wajib meneruskan membaca artikel ini. Bila lingkar pinggang Anda di bawah 90cm, Anda pun belum sepenuhnya aman – jadi Anda juga harus tetap membaca artikel ini.

Menurut Prof. Sidarta, pengukuran lingkar perut sebenarnya merupakan salah satu metode menilai jaringan lemak di perut. Tujuannya untuk mengetahui apakah seseorang telah masuk dalam kategori berisiko obesitas dan terjadi komplikasi metabolik. Semakin bertambah usia Anda, secara alami aktivitas yang dilakukan akan berkurang.

Metabolisme tubuh Anda pun melambat. Massa otot berkurang akibat aktivitas fisik yang kurang intens. Kondisi tersebut akan membuat lingkar pinggang Anda melebar. Singkatnya, semakin bertambah usia Anda, semakin tinggi risikonya.

Tekanan pekerjaan dan stres

Perut buncit menggambarkan lemak berlebih yang terdapat di perut atau “obesitas sentral”. Penyebabnya sudah jelas: kurangnya aktivitas pembakar lemak dan pola makan yang buruk. Persoalannya, itu adalah problem klasik pria sibuk di usia produktif seperti Anda.

Tengoklah ke sekitar Anda, kubikel-kubikel berisi rekan-rekan kerja dengan perut yang membuncit menyentuh bibir meja. Jam kerja yang panjang, jalan raya yang macet, bos yang seperti sipir penjara – stres! Itu semua mungkin menyita waktu Anda, memenjarakan Anda di ruang kerja, membuat Anda kurang banyak bergerak – apalagi untuk punya waktu berolahraga. Plus, tekanan-tekanannya yang tanpa ampun menyudutkan Anda di pojok yang penuh godaan makanan sarat lemak. Lengkaplah derita Anda.

Pola hidup yang kurang aktif secara fisik, penuh stres, dan pelarian yang tidak sehat itu (mengemil tanpa kesudahan) menghancurkan keseimbangan angka asupan dan pembakaran kalori yang seharusnya Anda jaga. Anda makan lebih banyak, namun hanya sedikit sekali melakukan pembuangan lewat aktivitas pembakar kalori. Plus, Anda mencoba menyingkirkan stres dengan pergi ke klub-klub dan kafe. Bir dan minuman beralkohol lainnya meringankan beban Anda.

Faktanya, menurut Prof. Sidarta, mengonsumsi alkohol berlebih menyebabkan tubuh kurang efisien dalam membakar lemak. Lemak pun semakin banyak tertimbun dalam tubuh seiring berjalannya waktu dan kebiasaan mengonsumsi alkohol. Akhirnya, Anda pulang kerja dengan perut yang semakin membuncit dari bulan ke bulan.

Ancaman dari perut buncit

Perut buncit bukan hanya berdampak pada penampilan fisik secara estetika, namun juga membawa risiko kesehatan yang cukup besar. Prof. Dr. dr. Sidartawan Soegondo, SpPD, KEMD, FACE mengatakan penderita obesitas sentral sangat rentan dengan risiko penyakit, yang pada akhirnya mengurangi harapan hidup. Inilah ancaman-ancaman yang bersembunyi di balik lipatan lemak di perut Anda.

1. Penyakit Jantung

Perut buncit dikaitkan dengan penyakit jantung karena pada pria yang mengalami obesitas juga ditemukan kecenderungan hipertensi, tingkat trigliserida yang tinggi, dan penurunan kolesterol HDL (kolesterol baik). Ada bukti yang menunjukkan bahwa obesitas dapat menyebabkan penebalan dinding ventrikel kiri jantung. Penebalan dinding ini lama-kelamaan akan memicu masalah pada jantung. Kondisi tersebut bisa menyebabkan gangguan pada pompa jantung sehingga tidak dapat berfungsi normal.

Obesitas juga dapat berhubungan dengan sindrom metabolik, yaitu gangguan metabolisme yang dapat menyebabkan menumpuknya sejumlah molekul lemak sehingga membuat arteri dan vena menjadi lebih sempit. Akibatnya, aliran darah dari dan ke jantung berkurang dan membuat organ tersebut bekerja lebih keras untuk memompa darah ke seluruh tubuh. “Kondisi ini memicu terjadinya kondisi fatal yang disebut dengan serangan jantung,” kata Prof. Sidarta.

2. Diabetes Mellitus Tipe 2

Kenaikan berat badan sebesar 5 hingga 10 kg dari berat badan yang sehat akan meningkatkan risiko Anda terkena diabetes mellitus tipe 2 sebesar dua kali lipat daripada orang yang tidak mengalami kelebihan berat badan. Lebih dari 80% penderita diabetes diketahui mengalami kelebihan berat badan ataupun obesitas. “Jadi jika Anda mulai bermasalah dengan berat badan yang terus naik, sebaiknya Anda segera berusaha menurunkannya. Jangan sampai berat badan Anda terlanjur tidak terkontrol dan semakin membengkak,” tegas Prof. Sidarta.

Diabetes mellitus tipe 2 merupakan diabetes yang hanya diderita orang dewasa akibat kelebihan berat badan. Berbeda dengan penderita diabetes mellitus tipe 1, tubuh penderita diabetes mellitus tipe 2 masih bisa menghasilkan insulin. Meskipun demikian, jumlah insulin yang diproduksi tidak mencukupi karena ada komplikasi yang disebabkan oleh kondisi yang dipicu oleh obesitas, misalnya tingginya kadar lemak darah (baik kolesterol maupun trigliserida).

4. Stroke

Karena terkait dengan pola makan yang tinggi lemak, hipertensi, dan kurangnya aktivitas fisik, obesitas dianggap sebagai faktor risiko sekunder yang dapat memicu stroke. Serangan stroke terjadi ketika pasokan darah ke suatu bagian otak tiba-tiba terganggu. Kurangnya aliran darah dalam jaringan otak menyebabkan serangkaian reaksi biokimia yang dapat merusakkan atau mematikan sel-sel saraf di otak.

Kematian jaringan otak dapat menyebabkan hilangnya fungsi yang dikendalikan oleh jaringan itu. Bila penderita bisa selamat dari kematian pun, risiko yang tidak kecil tetap mengancam, seperti kelumpuhan anggota badan, hilangnya sebagian ingatan, atau hilangnya kemampuan bicara.

5. Kanker

Para ahli memperingatkan bahwa kegemukan mungkin bisa juga memicu kanker. Bukti spesifik yang menunjukkan bagaimana kegemukan bisa meningkatkan risiko kanker memang belum ditemukan. Tapi diduga hal itu berhubungan dengan peningkatan produksi estrogen dan hormon lain penyebab kanker usus.

“Kegemukan akan membuat tubuh memproduksi lebih banyak hormon yang memicu pertumbuhan tumor. Orang yang memiliki perut buncit juga memiliki lebih banyak asam di dalam perutnya, sehingga bisa memicu kanker perut, intestine, atau esophagus,” ungkap Prof. Sidarta yang juga merupakan Ketua Pengurus Besar Persatuan Diabetes Indonesia (PERSADIA).

6. Fatty Liver

Penyakit lain yang bisa timbul akibat perut yang buncit atau obesitas adalah fatty liver. Fatty liver terjadi karena lemak yang berlebih menumpuk di dalam sel liver atau hati. Sebenarnya merupakan hal yang normal bila ada lemak di hati, asalkan jumlahnya tidak melebihi 10% dari berat hati itu sendiri. Kalau jumlahnya sudah melewati batas, itulah tanda-tanda hati mengalami perlemakan. Jika tidak segera ditangani, bisa mengakibatkan komplikasi yang serius.

“Lama-lama liver akan diselimuti lemak. Biasanya kita tidak mengetahui kalau menderita fatty liver dan baru mengetahuinya saat melakukan medical check up lengkap rutin atau saat melakukan pemeriksaan karena penyakit lain,” jelas Prof. Sidarta. Liver merupakan organ tubuh yang berfungsi memproduksi enzim dan hormon, terlibat dalam proses metabolisme semua bahan yang masuk dalam tubuh, dan mengatur cairan tubuh. Oleh karena itu, gangguan kerja liver karena timbunan lemak bisa berakibat fatal.

 

Kencangkan ikat pinggang

Tidak ada cara lain. Jika perut Anda mulai membuncit, saatnya untuk mengasah dua sisi tajam dari pedang pemangkas lemak Anda – segera susun program olahraga dan diet.

> Membangkitkan mesin pembakar lemak

Anda harus mengaktifkan mesin pembakar lemak dalam tubuh Anda dengan berolahraga minimal 3-4 kali seminggu dengan durasi 40-60 menit setiap kali Anda berolahraga. Anda juga perlu memperhatikan intensitas olahraga Anda. Cara paling mudah untuk memeriksa apakah Anda telah berolahraga secara maksimal adalah dengan mengecek denyut nadi.

Caranya: Hitung denyut nadi maksimal dengan rumus: 220 – umur = jumlah denyut/menit. Targetnya denyut nadi setelah olahraga adalah 80% dari denyut nadi maksimal. Jika belum mencapai jumlah denyut nadi tersebut artinya olahraga Anda belum mencapai titik intensitas yang maksimal. Misalnya, Anda saat ini berusia 30 tahun, maka denyut nadi maksimal Anda adalah 220-30=190 denyut/menit. Itu artinya target intensitas dari olahraga Anda adalah mencapai 152 denyut/menit atau 80% dari denyut nadi maksimal Anda.

> Mengatur pasokan makanan

Prinsip dari diet yang sehat adalah Anda makan sebanyak yang Anda perlukan. Jadi bila kebutuhan kalori harian Anda adalah sekitar 2000kkal maka Anda hanya boleh makan sejumlah itu. Bagi total kebutuhan kalori harian Anda dalam 5 jadwal makan. “Sebaiknya Anda menghitung jumlah kalori yang dimakan dan besarnya kalori yang dikeluarkan.

Prinsipnya, jika Anda bertumbuh tambun dan ingin kurus, harus menambah aktivitas fisik dan mengurangi asupan makanannya sehingga jumlah kalori yang masuk dan keluar menjadi minus 100-200 kalori/hari,” saran kata Dokter Fiastuti Witjaksana, Msc, Ms, SpGK, ahli gizi klinik dari RS. Cipto Mangunkusumo.


Source link

error: Content is protected !!