Personal

Jaya Wahono, Fokus Berinvestasi Di Sektor Riil

JAKARTA. Berinvestasi tidak selalu harus di pasar finansial. Jika memahami celah dan peluangnya, sektor riil juga menjanjikan profit dalam jangka panjang. InvestasiĀ  sektor riil inilah yang lebih diminati Jaya Wahono.

Sejak lulus dari Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 1993 silam, Presiden Direktur PT Charta Putra Indonesia ini melanglang buana ke sejumlah negara. Ia mengambil gelar master di Amerika Serikat (AS) lalu bekerja di sebuah perusahaan manufaktur di negeri uak Sam. Selain itu Jaya sempat bekerja di berbagai sektor, seperti keuangan, properti, termasuk hospitality.

Jaya pernah tinggal selama delapan tahun di Kanada bersama keluarganya dan tiga tahun di Libya. Tahun 2011, ia kembali ke tanah air dan memulai bisnis dari nol. Di tahun itulah dia mulai masuk ke bisnis energi terbarukan, bidang yang belum banyak digarap di Indonesia, tapi punya peluang yang besar.

Di bisnis ini, Jaya mendirikan PT Charta Putra Indonesia atau yang lebih dikenal dengan nama Clean Power Indonesia (CPI). Perusahaan ini merupakan pengembang pembangkit listrik berbasis biomassa bambu di daerah Mentawai, Sumatra Barat. “Di perusahaan inilah saya memulai investasi,” ujarnya.

Selain fokus membangun perusahaan, Jaya juga berinvestasi di sektor riil lainnya yakni properti. Menurutnya, sektor properti masih memiliki prospek yang sangat menarik dalam jangka panjang. Saat ini ia tengah mengembangkan aset town house di Jakarta.

Jaya bercerita, Jakarta merupakan wilayah dengan pertumbuhan properti yang cukup tinggi. Apalagi, ia lahir, berkembang, dan bekerja di ibukota RI, sehingga lebih memahami daerah tersebut. Untuk mendapatkan pendapatan berulang, dia menyewakan town house miliknya.

Bukan cuma itu, Jaya juga membeli tanah di daerah Tangerang Selatan. Landbank yang ia miliki cukup besar sehingga berencana membangun high rise building seperti konsep rumah susun. Aset propertinya itu kemungkinan dikembangkan melalui perusahaan keluarga.

Dalam pembangunannya, Jaya ingin aset properti tersebut sesuai dengan rencana tata ruang yang baik, termasuk ketersediaan ruang terbuka hijau. “Ada harapan bisa menggandeng pemerintah daerah setempat untuk mengembangkan daerah hijau,” katanya.

Properti hunian jangkung Jaya menyasar penyewa dari kalangan menengah atas dari daerah Bintaro.

Menurutnya, valuasi dari tanah dan properti terus meningkat. Di Jakarta saja, ia mengungkapkan, nilai apresiasi tanah bisa lebih dari 20% per tahun. Alhasil, dia pun harus memahami kapan waktunya membeli dan kapan waktunya mengembangkan.

Filosofi investasi

Sejatinya, Jaya lahir dari keluarga bukan kalangan pengusaha. Ayahnya seorang pegawai negeri sipil (PNS) dan sang ibu adalah ibu rumahtangga. Sehingga, prinsip-prinsip investasi dan wirausaha lahir berdasar pengalaman sendiri.

Dalam berinvestasi, ada filosofi sederhana yang selalu Jaya pegang teguh. “Saya hanya akan berinvestasi di aset yang saya pahami,” ujar pria kelahiran Jakarta, 22 Juni 1970, ini.

Ia selalu fokus pada pengembangan perusahaannya. Karena harus mengerahkan segala totalitas di bisnisnya itu, dia belum tertarik untuk mengembangkan portofolio di instrumen investasi yang lain.

Investasi di properti dia anggap sebagai tabungan keluarga dalam jangka panjang. Maklum, Jaya menilai, properti sebagai aset konservatif yang lebih aman dalam tempo lama.

Secara lebih agresif, Jaya fokus mengembangkan bisnisnya di CPI. Dalam jangka panjang, dia ingin perusahaannya bisa menerangi banyak pulau di Indonesia dengan energi yang ramah lingkungan.

Semoga terwujud, ya.


Source link

error: Content is protected !!