Tips

Kata Jack Ma, Lulusan Sekolah Bisnis Kebanyakan Tidak Bermanfaat. Waduh, Kenapa ya?

Di berbagai macam perguruan tinggi, jurusan bisnis selalu laris manis diserbu oleh peminatnya. Penyebabnya, ilmu bisnis dianggap menjadi salah satu modal penting untuk mencari kerja atau memulai usaha sendiri dengan tepat dan efisien.

Namun ternyata tidak begitu yang dipikirkan oleh Jack Ma. CEO Alibaba itu bahkan berujar bahwa ia tak ingin mempekerjakan siapapun yang lulus dari sekolah bisnis. Ini tentu mengejutkan, apalagi Alibaba telah tumbuh menjadi perusahaan yang menggurita yang tentunya makin butuh sentuhan dari para pakar bisnis.

Jack Ma tak membutuhkan lulusan sekolah bisnis sebagai karyawannya. (fortune.com)

Dilansir dari Next Shark, Minggu 29 Juli 2018, Ma berpendapat bahwa belajar bisnis di sekolah itu tidak penting dan lulusannya kebanyakan tidak bermanfaat. Satu-satunya lulusan sekolah bisnis yang bermanfaat adalah yang memilih untuk melupakan semua yang dipelajarinya selama belajar di sekolah bisnis.

Tentu bukan tanpa sebab jika Ma berujar sesinis itu. Menurutnya, sekolah mengajarkan ilmu, padahal bisnis lebih memerlukan kebijaksanaan, dan kebijaksanaan hanya bisa didapat dari pengalaman. Dengan bekerja keras, ilmu pun bisa didapatkan.

Jack Ma berpendapat bahwa ilmu bisa didapat jika seseorang bekerja keras. (thriveglobal.com)

Untuk itu, ia berpendapat kalau sebuah tim yang solid bukan yang anggotanya berasal dari universitas ternama atau orang-orang yang pernah bekerja di perusahaan besar dan tembus dalam daftar 00 perusahaan kelas dunia versi Fortune.

Jack Ma mencontohkan, ia pernah mempekerjakan seorang pakar pemasaran dari perusahaan besar untuk membuat rencana pemasaran. Saat itu, Alibaba tengah dalam kondisi naik kelas, dari yang semula bermodal USD50 ribu (Rp712,36 juta) menjadi perusahaan bernilai USD5 juta (Rp72,13 miliar). Singkat cerita, sang pakar membuatkan rencana bisnis senilai USD12 juta (Rp173,1 miliar) yng langsung membuat Ma bertanya-tanya.

Pengalaman Ma berurusan dengan pakar bisnis yang tidak bisa membuat rencana bisnis untuk perusahaan bermodal USD5 juta mengubah cara pandangnya. (theduran.com)

“Dan saya berkata, ‘Hei, kita hanya punya uang USD5 juta. Bagaimana bisa kamu memberi rencana bisnis yang bujet pemasarannya USD12 juta?’. Dia (pakar) itu berkata, ‘Jack, saya tak pernah membuat rencana bisnis (yang bujetnya) di bawah USD20 juta (Rp288,3 miliar),” kenang Ma.

Sejak itu Ma sadar bahwa elemen terpenting yang ia butuhkan adalah menjaring orang yang tepat, bukan orang yang disebut-sebut terbaik di bidangnya. Menurut Ma, orang terbaik justru tumbuh dan didapat dari orang-orang yang dilatih.

“Tak ada ‘orang terbaik’ di pasar. Orang terbaik adalah orang yang selalu kamu latih,” pungkas Ma.


Dozan Alfian

Tidak peduli pada jumlah followers di media sosial, hanya tertarik pada uang dan kekuasaan~

Source link

error: Content is protected !!