Sports

Keseruan Menonton One Championship

 

Seru. Itulah satu kata yang tepat untuk mewakili acara One Championship lalu (14/1). Bagaimana tidak, semua petarung di sembilan pertandingan mengerahkan semua keahlian bela dirinya. Efeknya, ada saja kejutan yang dilakukan petarungan disetiap pertarungan. Membuat penonton yang memenuhi Jakarta Convention Center bergemuruh.

 

Debut dua petarung dari Indonesia

Hal ini sudah terlihat di pertandingan pertama, yakni Adrian Matheis (Indonesia) dengan Rene Catalan (Filipina). Di ronde awal, saat Adrian tampak unggul dalam “permainan atas”, Catalan mengubah gaya permainannya. Serangan kombinasi yang biasanya dilancarkan selalu diusahakan untuk meng-take down Adrian. Dan ternyata gaya permainan jitu, dimana Adrian terpaksa berada di posisi bawah karena kena bantingan, dan Catalan dengan mudah melancarkan pukulan-pukulan secara sporadis.

Beberapa kali, Catalan ingin menyelesaikan dengan submission lewat kuncian triangle choke (kuncian leher) dan armbar (kuncian tangan). Tapi, lantaran tenaga Adrian masih oke, ia masih membuka kuncian itu. Dan tak berselang lama ronde pertama selesai.

Di ronde kedua, ternyata Adrian tidak mengubah strartegi pertandingan guna mengantisipasi permainan wrestling Catalan. Dan hasilnya sudah bisa ditebak…, Yup! Catalan menjadi dominan.

Selalu saja ketika Adrian bisa bangkit dari permainan bawahnya, Catalan melakukan kombinasi yang diakhir dengan take down. Tampak mulai kedodoran staminanya, Adrian kian sulit untuk bangkit dar dominasi Catalan di permainan bawah lantai. Alhasil, saat Catalan menemukan kelengahan posisi, dengan gerak cepat Catalan mengubah posisinya ke dalam kuncian armbar – kuncian pematah tangan. Dan kali ini Adrian tidak bisa lepas dari kuncian itu. Dan akhirnya dilerai oleh wasit demi mencegah patah tulang, dan Catalan dinyatakan menang.

Sementara pertandingan debutan dari Indonesia lainnya Stefer Rahardian meraih hasil positif. Gaya bermain lawan Rahardian, Jerome Paye, melancarkan serangan dengan tendangan ternyata tidak efektif dengan gaya permainan striking atau pukulan kombinasi cepat Rahardian. Alhasil, Jerome selalu tersudut dengan pemainan Rahadrian. Sampai ke ronde ketiga pola ini juga terus terjadi, dan pada kombinasi pukulan Rahardian: jap-jap- uppercut- jap, kepala Jerome terkena pukulan keras dan terhuyung kebelakang.

Tetapi, karena Jerome bisa menjaga keseimbangan, momentum yang sering dilanjut lawan untuk menghujan pukulan, tidak membuat knock out Jerome. Meski begitu, hal itu tidak bisa menyelematkan Jerome dari kekalahan. Dominasi Rahardian tidak terelakan. Dan akhirnya ia menang dengan skor telak (unanimious decision).

Tak mau kalah, petarung Indonesia lain dengan julukan The Terminator, Sunoto, menunjukan pertandingan seperti memberi tahu kenapa ia sampai dijuluki The Terminator. Dengan trengginas ia melakukan penyerangan tanpa ampun ke Chan Heng – laiknya di film Terminator. Ya, baik di “permainan atas” dan permainan bawah lantai, tak sedikit pun ia memberi celah untuk memukul balik. Hingga pada saat Sunoto berada di posisi dominan dalam permainan lantai, ia menghujani pukulan ke Chen dengan brutal.

Lantaran hujanan pukuln yang deras, Chen tak kuasa menahannya. Dan saat ada pukulan yang masuk dengan telak, pertahanannya pun terbuka. Alhasil, Sunoto semua pukulan Sunoto pun “masuk”. Dan melihat ketidakberdayaan lawannya, akhirnya Sunoto dinyatakan menang knock out (KO).

 

Knock out terbaik

Berlanjut ke pertandingan selanjutnya, banyak pertandingan yang selesai dengan hasil serupa. Mulai Anthony Engelen (Belanda) vs Aj Lias Mansor (Malaysia) lewat pukulan, sampai Kazunori Yokota vs Martin Nguyen lewat pukulan juga. Tapi, dari tiga pertandingan yang menghasilkan knock out, kalau ada ada pemilihan KO terbaik, pasti jatuh Anthony Engelen.

Mengapa? Karena biasanya knock out terjadi saat musuh kena pukulan terjatuh, lawannya langsung berlari mendatangi menghujani pukulan. Dan pertandingan selesai, persis kemananganya yang dimenangkan Martin Nguyen. Namun tidak buat Anthony. Ia berhasil memukul jatuh dengan kombinasi pukulan, yang mana biasanya yang “masuk” hanya satu pukulan. Dan ini semua pukulan itu kena ke kepala musuhnya. Alhasil, musuhnya langsung terjungkal dalam posisi berdiri, lalu terjatuh dalam posisi kaku tanpa posisi bertahan. Melihat lawannya dalam posisi itu, akhirnya Anthony pun dinyatakan menang.

Klimaks!

Dan kami kira inilah suguhan pertandingan terseru dalam one championship. Tapi, ternyata kami salah. pertandingan utama yang merebutkan sabuk Middleweight World Chmaionship antara Vitaly Bigdash lawan Aung La N Sang, paling seru dari semua pertandingannya. Klimak, Bung!

Dalam lima ronde yang dilewati sesama petarung terjadi jual beli pukulan yang langsung sudah hadir dalam ronde pertama. Padahal, biasanya di awal ronde banyak petarung main aman untuk melihat dulu gaya permainan lawan. Tapi, tidak untuk mereka. Seolah ingin menunjukan bahwa mereka yangt erbaik. Lancaran pukulan, tendangan, sampai bantingan. Kami yang menonton di pinggir, hanya bisa teriak begitu mendengar bunyi tangan lawan mendarat ke kepala musuhnya. Mantap!

Tetapi, dalam berjalannya ronde kematangan Bigdash – baik teknik sampai stamina – terlihat. Di saat ronde ketiga, ia berhasil menjatuhakan Aung La Sang, dan berhasil memaksimalkan momentum untuk menghujani pukulan lewat siku. Hasilnya sampai pelipis alisnya pecah dan wajah Aung La Sang hujan darah. Dan itu tetap berlanjut ke ronde ke empat dan kelima. Sampai-sampai di ronde empat, wasit menghentikan pertandingan untuk memberikan Aung La Sang menyeka darah di mukanya.

Apakah Aung La Sang sudah ‘habis’? Belum, Bung! Ia juga berhasil melakukan perlawanan dan beberapa kali pukulannya membuat Bigdash terjatuh. Tangguh. Itulah kata yang muncul dalam benak kami. Seingat kami di pertandingan inilah kami banyak berteriak, jantung berdegup cepat dan penonton histeris menyemangati Aung La Sang untuk bangkit; untuk memberi kejuatan.

Namun demikian, juri punya pandangannya sendiri. Setelah bel ronde kelima berbunyi tanda pertandingan selesai. Semua juri sependapat untuk memberikan nilai yang lebih unggul kepada Bigdash, dan akhirnya Vitaly Bigdash berhak menang dengan telak (unanimous decision). Alhasil, ia pun masih juara kelas menengah One Championship. Mantap. Selamat, Bung!


Source link

error: Content is protected !!