Business

Pemerintah ingin kurangi penggunaan dollar AS

JAKARTA. Presiden Joko Widodo menginginkan pelaku usaha tidak lagi berpatokan pada mata uang dollar Amerika Serikat (AS) dalam bertransaksi. Dengan begitu nilai tukar rupiah bisa menguat.

Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mengakui, saran ini tak mudah dilaksanakan. Transaksi perdagangan dengan berbagai negara rata-rata menggunakan dollar AS.

Meski demikian, kata dia, semua tergantung pada perjanjian perdagangan yang dibuat baik oleh korporasi maupun oleh pemerintah. “Bisa saja mengganti mata uang perdagangan dilakukan sebagian,” ujarnya, Jumat (9/12). Misalnya untuk perdagangan dengan China, mengingat ekspor-impor ke China merupakan yang terbesar dibandingkan dengan Jepang, AS, India, dan Uni Eropa.

Pada Oktober 2016 saja, nilai ekspor ke China mencapai US$ 1,67 miliar. Sedangkan nilai impor dari China di bulan yang sama mencapai US$ 2,4 miliar. Bahkan jika ditarik dari Januari–Oktober 2016, nilai impor dari China mencapai US$ 24,47 miliar. Bandingkan dengan impor Indonesia dari AS yang hanya US$ 644 juta pada Oktober dan US$ 5,9 miliar sepanjang Januari-Oktober 2016.

Bambang mengatakan, untuk mengurangi impor ini, pemerintah akan mengembangkan industri manufaktur. Tapi langkah ini membutuhkan waktu yang tidak sebentar.


Source link

error: Content is protected !!