Business

Profit taking bikin IHSG turun 0,75% di sesi I

JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) semakin terkoreksi menutup perdagangan sesi I, Rabu (7/12). Mengacu RTI, indeks turun 0,75% atau 39,327 poin ke level 5.233,638.

Tercatat 180 saham menyeret IHSG, dan 93 saham bergerak naik serta 100 saha stagnan. Volume perdagangan rehat pertama sebesar 4,54 miliar lots saham dengan nilai transaksi Rp 3,49 triliun.

10 indeks sektorl membebani IHSG. Sektor pertambangan paling dalam penurunannya 1,38% diikuti barang konsumsi turun 1,18%, dan infrastruktur turun 1,17%.

Investor asing masih saja melakukan aksi jualnya. Di pasar reguler, net sell asing Rp 221,322 miliar dan Rp 15,717 miliar keseluruhan perdagangan.

Saham-saham yang masuk top losers LQ45 antara lain; PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO) turun 3,70% ke Rp 10.425, PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA) turun 3,45% ke Rp 12.600, dan PT Gudang Garam Tbk (GGRM) turun 3,26% ke Rp 65.250.

Saham-saham yang masuk top gainers LQ45 antara lain; PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) naik 1,42% ke Rp 1.785, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) naik 1,33% ke Rp 7.600, dan PT Hanson International Tbk (MYRX) naik 1,20% ke Rp 169.

“Laju IHSG mulai tertahan seiring dengan aksi ambil untung investor sehingga indeks bergerak di area negatif,” kata Analis Binaartha Sekuritas Reza Priyambada dikutip dari Antara.

Kendati demikian, potensi IHSG untuk bergerak kembali di area positif masih terbuka menyusul sentimen fundamental ekonmi Indonesia masih positif. 

Di sisi lain, nilai tukar rupiah yang melanjutkan apresiasi terhadap dollar AS akan turut menjaga IHSG untuk tidak tertekan lebih dalam.

“Dengan asumsi penilaian positif akan kondisi makro ekonomi Indonesia masih terjaga diharapkan dapat menjaga kinerja perusahaan tetap positif yang akhirnya dapat mendorong kembali harga saham di BEI,” katanya.

Vice President Research and Analysis Valbury Asia Securities Nico Omer Jonckheere menambahkan bahwa masih adanya optimisme perekonomian Indonesia pada kuartal IV tahun ini yang membaik dan terjaga pertumbuhannya serta kondisi keamanan secara nasional tetap kondusif, maka peluang bagi IHSG untuk kembali menguat cukup terbuka.

“Stabiltas ekonomi Indonesia di tengah perekonomian global yang penuh dengan ketidakpastian, diharapkan dapat memberikan kepercayaan yang besar bagi pelaku pasar baik domestik maupun investor asing,” katanya.


Source link

error: Content is protected !!