Women

Tentang Dylan, Lelaki yang Sangat Kucinta. Ini Kisahku untuk RulaWoman

Waktu remaja merupakan waktu yang sangat indah untuk jatuh cinta. Sampai kuliah saat ini, aku belum menemukan lelaki yang tepat menggantikan dia, Dylan Ignas Anggian Nainggolan. Dan waktuku berhari-hari, hanya untuk membayangkan, “Bagaimana kami bisa saling jatuh cinta?”

Awal aku jatuh cinta dengan Dylan, ketika akan tes masuk SMA di Sumatera Utara. Terlintas di pikiranku, manis juga cowo ini. Tapi kuurungkan niatku untuk berkenalan dengan dia karena aku harus menyelesaikan tes masuk SMA.

Waktu pun berlalu hingga pengumuman masuk SMA, aku lulus. Bagaimana dengan dia, pikirku. Awal ospek SMA, aku tidak berjumpa dengan dia. Sedikitpun tidak terlintas mukanya di hadapanku. Hingga ketika penutupan ospek yang aku ingat sekali itu di Pantai Bosur, aku menemukan dia. Tapi aku kembali tidak berani untuk menyapa duluan. Padahal seharusnya hal yang wajar untuk berkenalan dengan teman baru, namun ada sebersit perasaanku, aku ingin lebih dari teman.

Hari-hari pun berlalu, ternyata kelas kami sebelahan! Tapi aku tetap tidak berani untuk mengajak bicara duluan. Akhirnya mulai timbul penyesalan ketika aku melihat dia dengan perempuan lain duduk berdua sehabis pulang sekolah, ya aku cemburu. Tapi aku siapa? Bicara dengan dia aja belum pernah. Menyedihkan memang ketika orang yang kamu sayang tidak menyanyangimu juga. Tapi ya sudah, lelaki bukan cuma dia, pikirku.

Aku pun mulai mencoba menjalin hubungan dengan lelaki lain, yaitu kakak kelasku. Aku senang dia baik, namun aku tidak nyaman dengannya yang selalu ingin setiap hari ketemu. PADAHAL KAMI SATU ASRAMA. Aku bukan tipe perempuan yang harus selalu bertemu untuk menunjukkan rasa sayang. Namun aku tetap bersabar, tidak logis untuk memutuskan dengan alasan “nggak suka ketemu setiap hari”. Jadi, aku urungkan niatku meminta putus hingga ketika aku melihat dia mengantar pulang perempuan lain ke asrama. It’s okay sih kalau perempuan itu temannya. Masalahnya, perempuan itu MANTAN GEBETANNYA! You know what i feel?

Karena aku masih remaja saat itu dan masih labil, aku langsung meminta putus. Dia berusaha meyakinkan, aku berusaha menolak. Aku kembali sendiri. Kulihat Twitter Dylan, saat itu masih banyak orang yang menggunakan Twitter, hehe. Kali ini dia pacaran dengan orang yang berbeda, dapat kusimpulan ketika aku pacaran dengan abang kelas, dia putus dengan mantan sebelumnya. Bisa dibilang Dylan merupakan lelaki playboy. Tapi mungkin aku bisa mengubahnya.

Ketika aku dalam kondisi sendiri, banyak laki-laki yang kembali mendekatiku, mayoritas kakak kelas, karena mereka tidak tahu betapa ‘hiperaktif’-nya aku. Di mata mereka aku adalah perempuan yang pendiam, stay cool, dan lemah lembut. Padahal tidak. Akhirnya aku kembali mencoba membuka diri, aku kembali berpacaran dengan kakak kelas. Dia baik, bahkan sangat baik, apa yang aku minta, dia selalu memberinya. Dia tidak banyak aturan, yang penting kami berdua sama-sama bahagia. Dia tidak ada salah, namun aku yang mencari-cari kesalahannya. Ya, waktu aku sudah berpacaran dengan dia, aku mencoba main di kelas sebelah. Aku menemukan Dylan sedang mengobrol dengan teman-temannya dan aku mencoba ikut di dalam perbincangan itu. Dia lucu dan asyik! Dengannya, aku tidak berhenti untuk tertawa. Sampai aku pulang dan mengecek handphone, begitu banyak notifikasi “Dylan Ignas follows you” atau “Dylan Ignas add you”. Saat itu media sosial yang aku pakai adalah Facebook, Twitter, Ask.fm, dan BBM (Blackberry Messenger). Aku benar-benar senang! Banyak sekali yang aku bahas dengan dia. Yang paling aku ingat dia berkata, “Kalau aku nikah samamu hancur lah rumah tanggaku!” Lalu aku menjawab, “Kok hancur pula? Aku bisa masak, nyuci baju, nyapu, dan lain-lain kok!” Dengan santai dia menjawab “Bukan masalah masak, dan lain-lain. Tapi mati nanti anakku kau lari-lari, terpijak pula. Makanya jangan hiperaktif kali haha.” Ya, dia benar-benar mampu membuat aku tertawa. Bahkan kami senang bermain teka-teki.

“Mengapa dinamakan nasi goreng?” tanya dia.

“Ya karena nasinya digoreng dulu,” jawabku singkat.

“Salah.”

“Jadi apa kalau bukan itu?”

“Karena Dina lapar, haha!” jawab dia sambil tertawa. Aku coba berpikir, dan aku pun mulai tertawa juga sambil mencubit dia.

Walaupun kami belum pacaran, aku sudah mencintainya. Hal yang salah memang ketika aku pacaran dengan laki-laki lain, aku malah chatting sama Dylan. Sifat labilku pun kembali datang, aku memutuskan kakak kelas tersebut dengan alasan aku nggak suka laki-laki yang merokok. Dylan tidak merokok kok, jadi Dylan selamat, hehe. Aku putus, namun Dylan tidak menembakku. Dia bilang dia butuh tanggal yang pas, yaitu 11 Agustus 2015. Ya, dia memang bukan “Dilanku 1990”, tapi dia “Dylanku 2015”.

BACA JUGA


Happy Valentine’s Day, Dylan!

Let’s block ads! (Why?)

Source link

Incoming search terms:

error: Content is protected !!